Rabu, 05 Oktober 2016 22:46

PERKIRAAN HARGA SAPI SELANJUTNYA

Written by
Rate this item
(0 votes)

Kebijakan harus berjangka panjang dan menjaga keberlangsungan usaha feedloters dan peternak dalam negeri. “Jangan hanya karena sebulan ini harga daging naik, padahal 11 bulan lainnya stabil, pemerintah lantas mengorbankan peternak kecil.”

Sejak lepas Idul Fitri lalu harga daging sapi kualitas nomor satu di Bandarlampung dan sekitarnya bertengger di level Rp 110 ribu/kg. Harga sapi hidup dari feedloters juga tetap, Rp 41 ribu – 42 ribu/kg bobot hidup dan pasokannya lancar. Demikian disampaikan Tampan Sujarwadi, pedagang daging yang juga pemilik Rumah Potong Hewan (RPH) Z-beef kepada TROBOS Livestock di Bandarlampung, baru-baru ini.

Pria yang akrab disapa Ampan ini adalah pedagang sejak 2002 yang kemudian sejak 2007 CV Zaki Putra Pratama miliknya menjadi mitra utama feedloters PT Juang Jaya di Sidomulyo, Lampung Selatan. Menjadi pemasok daging terbesar ke sejumlah pasar tradisional di Bandarlampung, di 2008 ia pun membangun RPH sendiri di Kelurahan Susunan Baru, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandarlampung, rata-rata memotong 20 ekor sapi per malam.

Lebih lanjut Ampan mengungkapkan, momen Idul Adha lalu harga daging sempat naik jadi Rp 120 ribu, tetapi hanya sehari. “Besoknya kembali ke Rp 110 ribu/kg,“ tutur Ketua Persatuan Pedagang Daging (PPD) Bandarlampung ini.

Sementara menurut keterangan Sarjono Ketua Kelompok Peternak Limosin Desa Astomulyo, Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, jelang Idul Adha sampai sekarang, harga sapi eks impor bertengger di angka Rp 42 ribu/kg bobot hidup. Sedangkan sapi lokal siap potong lebih tinggi, Rp 44 ribu/kg.

Kecuali sapi lokal tanggung rata-rata berat 450 kg untuk kurban melonjak sampai Rp 46 ribu hingga Rp 47 ribu/kg. “Karena banyak umat Islam cari sapi tanggung seharga Rp 15 juta – 17 juta sebagai hewan kurban,” ujarnya kepada TROBOS Livestock. Sarjono menambahkan, dibandingkan tahun lalu, permintaan sapi kurban kali ini tidak melonjak sementara stok yang disiapkan peternak cukup banyak. Jadi kenaikan harga tidak terlalu tinggi.

Prediksi & Analisis Harga Selanjutnya

Pasca Idul Adha atau Lebaran Haji, kata Sarjono, biasanya harga sapi hidup dari semua jenis merosot sering turunnya permintaan. Kalau toh ada kenaikan menjelang Hari Natal, kenaikannya tidak seberapa. Bahkan hingga menjelang bulan puasa Ramadan 2017, Sarjono yang juga peternak mitra PT GGL ini yakin permintaan sapi potong sepi.

Kecuali sapi ukuran kecil untuk bakal digemukkan. Permintaan sapi bergeser ke ukuran kecil untuk mengisi kandang yang dikosongkan menjelang lebaran. Kini yang mahal sapi lokal bakalan untuk digemukkan hingga jelang Lebaran Haji tahun depan. “Permintaan sapi lokal bakalan mulai naik, harganya Rp 46 ribu – 47 ribu/kg bobot hidup,” ungkapnya.

Selebihnya, secara umum pasaran akan turun. Bahkan kondisinya bakal diperparah oleh masuknya ribuan ton daging kerbau beku dari India. “Walaupun Menteri Perdagangan mengatakan daging tersebut hanya untuk memenuhi kebutuhan DKI Jakarta, tapi dampaknya bisa saja sampai ke Lampung karena permintaan sapi dari pedagang daging di Jakarta bakal berkurang,” ungkapnya. 

Ampan mengemukakan analisis, harga daging yang berkisar Rp100 ribu – 110 ribu/kg, cukup ideal karena harga sapi hidup Rp 41 ribu – 42 ribu/kg bobot hidup. Kalau harga daging dipaksakan pemerintah Rp 80 ribu – 90 ribu/kg, maka harga sapi hidup tidak boleh lebih dari Rp 32 ribu/kg. Artinya peternak dipaksa merugi, yang justru berpotensi menjadikan peternak ‘ogah’ mengembangkan peternakannya.

Dan turunnya permintaan daging dari konsumen, khususnya Lampung, bukan semata-mata karena harga daging mahal. Disebut Ampan, daya beli masyarakat sedang rendah seiring jatuhnya harga komoditas pertanian yang dihasilkan mayoritas masyarakat Lampung, seperti karet, singkong dan sawit. “Jangankan beli daging, beli ayam dan telur saja susah. Silakan tanya peternak ayam dan telur, omset mereka juga merosot,” jelasnya.

Ampan berharap pemerintah menata ulang kebijakan tata niaga sapi dan daging agar tak ada pihak yang dirugikan dan peternakan sapi di dalam negeri berkembang sehingga secara bertahap ketergantungan terhadap impor dikurangi. “Kebijakan harus berjangka panjang dan menjaga keberlangsungan usaha feedloters dan peternak, sebab 95 % daging sapi berasal dari sapi siap potong yang dipasok feedloters dan peternak,” tandasnya.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 205/Oktober 2016

Sumber : (http://www.trobos.com/detail-berita/2016/10/01/8/7944/perkiraan-harga-sapi-selanjutnya)

Read 105 times
Administrator

Mohon maaf atas ketidaknyamanan apabila terdapat kesalahan dan kekurangan dalam konten website ini dan Semoga anda dapat memperoleh informasi-informasi yang anda butuhkan di Website ini.

Downloadhttp://bigtheme.net/joomla Joomla Templates