Rabu, 05 Oktober 2016 22:32

MASIH SOAL BIBIT SAPI

Written by
Rate this item
(0 votes)

Pabriknya sapi itu bibit. Dan soal pembibitan, merupakan tugas pemerintah yang diamanatkan oleh undang-undang

Keinginan pemerintah untuk menekan harga daging hingga ke level Rp 80 rb per kg diwujudkan dengan relaksasi aturan impor yang mengubah permentan No 58/2015 menjadi Permentan 34/2016. Sri Mukartini – Direktur Kesmavet Kementan menyatakan dalam kondisi saat ini, impor merupakan salah satu solusi untuk menekan tingginya harga daging di pasaran. Meski demikian, aspek keamanan tetap jadi perhatian pemerintah. Disyaratkan produk yang masuk benar-benar aman.

Ia pun menyadari impor bukanlah satu-satunya jalan. Pemerintah pun harus mengembangkan sektor hulu agar tidak bergantung pada impor, karena pada prinsipnya harga akan turun jika suplai tersedia banyak. “Dan untuk itu pemerintah sekarang sedang menggalakkan program-program di hulu. Supaya populasi sapi nasional meningkat dandapat menyuplai sebagian besar kebutuhan daging nasional. Kalau sudah seperti itu tentu harga daging akan turun. Tetapi ini bukan sesuatu yang instan, butuh waktu,” terang Mukartini.

Rochadi Tawaf – Dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran  mengingatkan tugas pemerintah untuk mengambangkan sektor hulu. Ia berpendapat harga daging murah tidak akan pernah dapat dicapai apabila yang dibenahi hanya sektor hilir. Seyogianya, kata dia, pemerintah konsisten membangun dari hulu hingga hilir. Ia menganalogikan persoalan daging ini dengan sebuah pabrik. “Pabriknya sapi tentu dari bibit. Dan soal pembibitan, merupakan tugas pemerintah yang diamanatkan oleh undang-undang,” tuntut dia.

Tapi sampai hari ini, menurutpenilaian Rochadi, pemerintah hanya berkutat di sektor hilir sementara di sektor hulu sebagai pusat industri penghasil bakalan tidak disentuh. Lebih memprihatinkan, pemerintah seolah lepas tangan dan justru memberikan tanggung jawab breeding (pembibitan) kepada peternak rakyat dan industri feedlot. Semestinya ada segmentasi,breedingdan feedlot terpisah. Tetapi yang terjadi sekarang feedlot dipaksa ditarik ke hulu sehingga bermain di pembiakan. “Inikan lucu, jadi ada yang istilahnya breedlot yaitu breeding – feedlot. Walaupunbias jalan karenakeuntungannyasaling menutupi, tetapi itu tugas pemerintah. Undang-undang menyatakan, pembibitan adalah tanggung jawab pemerintah. Nah tanggung jawab pemerintah ini seharusnya dilakukan BUMN, badan ini harus bekerja,” cecar dia.

Menggiatkankembali integrasi sapi sawit melalui PT Perkebunan Nusantara (PTPN), disebut Rochadi sebagai solusi, sebagaimana pernah digagasDahlan Iskan saat menjabat sebagai Menteri BUMN. Realisasi kebijakan tersebut dinilainya masih jauh dari harapan.

Ia berandai-andai program integrasi sapi-sawitdijalankan, dan pemerintah mampu menyediakan setidaknya 3 juta ekor bibit sapi untuk di gemukkan. “Pemerintah mampu sediakan 1 juta ekor bibit sapi saja melalui pembibitan pemerintah, harga sudah pasti terkendali,” ucapnya yakin. Karut marutpersapian saat ini, menurut Rochadi, karena sektor pembibitan dibebankan kepada rakyat. Dan selama initak ada insentif apapun kepada rakyat yang mengembangkan pembibitan, karenaitu harga sulit terkendali.

Grand Desain

Dosen Fakultas Peternakan IPB, Muladno dalam Seminar Grand Design Perdagingan Nasional yang dibesut oleh Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) pada 29/7 lalu menilai, selama ini peternak rakyat ditelantarkan oleh banyak pihak tanpa disadari. Baik itu oleh aparat, perguruan tinggi maupun pengusaha, sehingga persaingan yang terjadi tidak sehat.

Fakta memprihantinkan disebutnya, sarjana peternakan sangat minim yang berprofesi sebagai peternak, kurang dari 5%. Sementara peternak jamaknya tidak punya bekal ilmucukup, termasuk dari institusi setingkat kampus. “Sehingga tidak pernah nyambung. Akibatnya populasi terus turun. Saya katakan, kalau ada yang mengatakan populasi sapi naik itu bohong besar. Populasi ternak lokal semuanya turun, cek saja di mana-mana,” ungkapnyaterang-terangan.Maka membuatgrand design, kata Muladno,yang harus dikedepankan adalah peningkatan populasi ternak sapi. 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 204/September 2016

Sumber : (http://www.trobos.com/detail-berita/2016/09/01/7/7870/masih-soal-bibit-sapi)

Read 63 times Last modified on Rabu, 05 Oktober 2016 22:37
Administrator

Mohon maaf atas ketidaknyamanan apabila terdapat kesalahan dan kekurangan dalam konten website ini dan Semoga anda dapat memperoleh informasi-informasi yang anda butuhkan di Website ini.

Downloadhttp://bigtheme.net/joomla Joomla Templates