Administrator

Administrator

Mohon maaf atas ketidaknyamanan apabila terdapat kesalahan dan kekurangan dalam konten website ini dan Semoga anda dapat memperoleh informasi-informasi yang anda butuhkan di Website ini.

Selasa, 18 Oktober 2016 14:54

Monitoring Evaluasi Isikhnas

Monev Evaluasi Isikhnas

Pada Hari Ini tanggal 18 Oktober 2016 bertempat di Aula Dinas Peternakan Barru dilaksanakan Monitoring Evaluasi Program Isikhnas Oleh Tim Evaluasi Isikhnas antara lain Catriona Mackenzie (Aipeid) , Chornelly Kusuma Yohana (Keswan Pusat), Rifki Nur Muhammad (Keswan Pusat), Linda (Aipeid), Aluisius Ari (Aipeid) dan Observer drh. Mardiatmi (Kasubdit P2H), drh. Bagoes P, M.Sc (Kepala BBVet Maros) bertujuan mengetahui penggunaan Isikhnas di lapangan dan memberikan masukan terkait pengembangan sistem informasi (Isikhnas) oleh seluruh medik dan paramedik.

Mentan Luncurkan UPSUS SIWAB (Sapi Indukan Wajib Bunting)

Lamongan, Jawa Timur - Untuk mengakselerasi percepatan target pemenuhan populasi sapi potong dalam negeri, Kementerian Pertanian meluncurkan program Upaya Khusus Percepatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting (Upsus Siwab). Hal itu disampaikan oleh Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam sambutannya saat melakukan Launching SIWAB di Waduk Gondang, Lamongan Provinsi Jawa Timur (8/10).

Upsus SIWAB mencakup dua program utama yaitu peningkatan populasi melalui Inseminasi Buatan (IB) dan Intensifikasi Kawin Alam (Inka)," ucapnya.

Program tersebut dituangkan dalam peraturan Menteri Pertanian Nomor 48/Permentan/PK.210/10/2016 tentang Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting yang ditandatangani Menteri Pertanian pada tanggal 3 Oktober 2016.

"Upaya ini dilakukan sebagai wujud komitmen pemerintah dalam mengejar swasembada sapi yang ditargetkan Presiden Joko Widodo tercapai pada 2026   mendatang serta mewujudkan Indonesia yang mandiri dalam pemenuhan pangan asal hewan, dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat," jelas Mentan.

Menteri Pertanian menyampaikan juga bahwa Upsus Siwab akan memaksimalkan potensi sapi indukan di dalam negeri untuk dapat terus menghasilkan pedet. Program ini pun menjadi fokus Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan pada   2017 mendatang.

"Yang terpenting sekarang adalah  bagaimana meningkatkan produksi dengan inseminasi buatan. Tahun lalu saja, dari program IB itu sudah ada penambahan 1,4 juta ekor anakan dari 2 juta yang di-IB. Tahun ini kami susun targetnya 4 juta IB, mudah-mudahan bisa ada 3 juta kelahiran baru",jelasnya.

Mendag juga menyatakan bahwa kita harus mandiri ternak dan menargetkan ekspor. "Kesejahteraan petani naik, angka kemiskinan turun. Itulah target pemerintah," papar Mendag.

Selanjutnya, dalam arahannya, Menteri Desa PDT dan Transmigrasi Eko Putro Sanjoyo juga menyampaikan Nawa Cita Presiden yang ketiga adalah membangun Indonesia dari daerah pinggiran. "Desa bisa membangun Indonesia. Kebersamaan adalah kuncinya. Kami pemerintah pusat saling mendukung dan juga bersinergi dengan propinsi hingga kabupaten," jelas Mendes. 

Anggota Komisi IV DPR RI, Viva Yoga Mauladi juga menyatakan bahwa DPR mendukung program pemberian IB secara gratis yang meringankan petani dan kedepan akan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Bupati Lamongan, Fadeli, selaku tuan rumah menyampaikan apresiasinya dan antusiasmenya atas terselenggaranya kegiatan ini. "Meningkatkan populasi sapi adalah dengan cara IB. Kabupateñ Lamongan Per Agustus 2016 kelahiran pedet melalui IB mencapai 15 ribu. Kami harap ada peningkatan dari capaian tahun 2015 sebanyak 25 ribu," jelasnya 

Senada dengan Bupati Lamongan, Gubernur Jawa Timur juga mengapresiasi kinerja para menteri dalam sinerginya terutama di bidang pertanian dan peternakan. "Menteri harus pro rakyat. Negara hadir. Oleh karena itu, biarkan peternak yang menikmati hasilnya," tegas Soekarwo. Dia juga meminta agar IB di Jatim diberikan 1 juta. 

Selain Mentan Andi Amran Sulaiman, hadir pula dalam peluncuran Upsus Siwab di Lamongan Menteri Perdagangan, Menteri Desa PDT dan Transmigrasi, Menteri   Koperasi dan UMKM, Anggota Komisi IV DPR RI, Gubernur Jawa Timur, Bupati Lamongan, Wantimpres, Wakil Pemred Kompas Ninuk Pambudi dan para Ketua Asosiasi Pemerintahan Desa, Kabupaten dan Provinsi, beberapa pejabat pusat dan daerah serta para peternak.

Rangkaian acara Panen pedet hasil IB tahun 2016 sekaligus pencanangan Upsus Siwab ini merupakan bentuk percepatan peningkatan  populasi sapi kerbau menuju ketahanan pangan hewani untuk tercapainya swasembada ternak.

Sumber: Kementan

Rabu, 05 Oktober 2016 22:46

PERKIRAAN HARGA SAPI SELANJUTNYA

Kebijakan harus berjangka panjang dan menjaga keberlangsungan usaha feedloters dan peternak dalam negeri. “Jangan hanya karena sebulan ini harga daging naik, padahal 11 bulan lainnya stabil, pemerintah lantas mengorbankan peternak kecil.”

Sejak lepas Idul Fitri lalu harga daging sapi kualitas nomor satu di Bandarlampung dan sekitarnya bertengger di level Rp 110 ribu/kg. Harga sapi hidup dari feedloters juga tetap, Rp 41 ribu – 42 ribu/kg bobot hidup dan pasokannya lancar. Demikian disampaikan Tampan Sujarwadi, pedagang daging yang juga pemilik Rumah Potong Hewan (RPH) Z-beef kepada TROBOS Livestock di Bandarlampung, baru-baru ini.

Pria yang akrab disapa Ampan ini adalah pedagang sejak 2002 yang kemudian sejak 2007 CV Zaki Putra Pratama miliknya menjadi mitra utama feedloters PT Juang Jaya di Sidomulyo, Lampung Selatan. Menjadi pemasok daging terbesar ke sejumlah pasar tradisional di Bandarlampung, di 2008 ia pun membangun RPH sendiri di Kelurahan Susunan Baru, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandarlampung, rata-rata memotong 20 ekor sapi per malam.

Lebih lanjut Ampan mengungkapkan, momen Idul Adha lalu harga daging sempat naik jadi Rp 120 ribu, tetapi hanya sehari. “Besoknya kembali ke Rp 110 ribu/kg,“ tutur Ketua Persatuan Pedagang Daging (PPD) Bandarlampung ini.

Sementara menurut keterangan Sarjono Ketua Kelompok Peternak Limosin Desa Astomulyo, Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, jelang Idul Adha sampai sekarang, harga sapi eks impor bertengger di angka Rp 42 ribu/kg bobot hidup. Sedangkan sapi lokal siap potong lebih tinggi, Rp 44 ribu/kg.

Kecuali sapi lokal tanggung rata-rata berat 450 kg untuk kurban melonjak sampai Rp 46 ribu hingga Rp 47 ribu/kg. “Karena banyak umat Islam cari sapi tanggung seharga Rp 15 juta – 17 juta sebagai hewan kurban,” ujarnya kepada TROBOS Livestock. Sarjono menambahkan, dibandingkan tahun lalu, permintaan sapi kurban kali ini tidak melonjak sementara stok yang disiapkan peternak cukup banyak. Jadi kenaikan harga tidak terlalu tinggi.

Prediksi & Analisis Harga Selanjutnya

Pasca Idul Adha atau Lebaran Haji, kata Sarjono, biasanya harga sapi hidup dari semua jenis merosot sering turunnya permintaan. Kalau toh ada kenaikan menjelang Hari Natal, kenaikannya tidak seberapa. Bahkan hingga menjelang bulan puasa Ramadan 2017, Sarjono yang juga peternak mitra PT GGL ini yakin permintaan sapi potong sepi.

Kecuali sapi ukuran kecil untuk bakal digemukkan. Permintaan sapi bergeser ke ukuran kecil untuk mengisi kandang yang dikosongkan menjelang lebaran. Kini yang mahal sapi lokal bakalan untuk digemukkan hingga jelang Lebaran Haji tahun depan. “Permintaan sapi lokal bakalan mulai naik, harganya Rp 46 ribu – 47 ribu/kg bobot hidup,” ungkapnya.

Selebihnya, secara umum pasaran akan turun. Bahkan kondisinya bakal diperparah oleh masuknya ribuan ton daging kerbau beku dari India. “Walaupun Menteri Perdagangan mengatakan daging tersebut hanya untuk memenuhi kebutuhan DKI Jakarta, tapi dampaknya bisa saja sampai ke Lampung karena permintaan sapi dari pedagang daging di Jakarta bakal berkurang,” ungkapnya. 

Ampan mengemukakan analisis, harga daging yang berkisar Rp100 ribu – 110 ribu/kg, cukup ideal karena harga sapi hidup Rp 41 ribu – 42 ribu/kg bobot hidup. Kalau harga daging dipaksakan pemerintah Rp 80 ribu – 90 ribu/kg, maka harga sapi hidup tidak boleh lebih dari Rp 32 ribu/kg. Artinya peternak dipaksa merugi, yang justru berpotensi menjadikan peternak ‘ogah’ mengembangkan peternakannya.

Dan turunnya permintaan daging dari konsumen, khususnya Lampung, bukan semata-mata karena harga daging mahal. Disebut Ampan, daya beli masyarakat sedang rendah seiring jatuhnya harga komoditas pertanian yang dihasilkan mayoritas masyarakat Lampung, seperti karet, singkong dan sawit. “Jangankan beli daging, beli ayam dan telur saja susah. Silakan tanya peternak ayam dan telur, omset mereka juga merosot,” jelasnya.

Ampan berharap pemerintah menata ulang kebijakan tata niaga sapi dan daging agar tak ada pihak yang dirugikan dan peternakan sapi di dalam negeri berkembang sehingga secara bertahap ketergantungan terhadap impor dikurangi. “Kebijakan harus berjangka panjang dan menjaga keberlangsungan usaha feedloters dan peternak, sebab 95 % daging sapi berasal dari sapi siap potong yang dipasok feedloters dan peternak,” tandasnya.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 205/Oktober 2016

Sumber : (http://www.trobos.com/detail-berita/2016/10/01/8/7944/perkiraan-harga-sapi-selanjutnya)

Rabu, 05 Oktober 2016 22:32

MASIH SOAL BIBIT SAPI

Pabriknya sapi itu bibit. Dan soal pembibitan, merupakan tugas pemerintah yang diamanatkan oleh undang-undang

Keinginan pemerintah untuk menekan harga daging hingga ke level Rp 80 rb per kg diwujudkan dengan relaksasi aturan impor yang mengubah permentan No 58/2015 menjadi Permentan 34/2016. Sri Mukartini – Direktur Kesmavet Kementan menyatakan dalam kondisi saat ini, impor merupakan salah satu solusi untuk menekan tingginya harga daging di pasaran. Meski demikian, aspek keamanan tetap jadi perhatian pemerintah. Disyaratkan produk yang masuk benar-benar aman.

Ia pun menyadari impor bukanlah satu-satunya jalan. Pemerintah pun harus mengembangkan sektor hulu agar tidak bergantung pada impor, karena pada prinsipnya harga akan turun jika suplai tersedia banyak. “Dan untuk itu pemerintah sekarang sedang menggalakkan program-program di hulu. Supaya populasi sapi nasional meningkat dandapat menyuplai sebagian besar kebutuhan daging nasional. Kalau sudah seperti itu tentu harga daging akan turun. Tetapi ini bukan sesuatu yang instan, butuh waktu,” terang Mukartini.

Rochadi Tawaf – Dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran  mengingatkan tugas pemerintah untuk mengambangkan sektor hulu. Ia berpendapat harga daging murah tidak akan pernah dapat dicapai apabila yang dibenahi hanya sektor hilir. Seyogianya, kata dia, pemerintah konsisten membangun dari hulu hingga hilir. Ia menganalogikan persoalan daging ini dengan sebuah pabrik. “Pabriknya sapi tentu dari bibit. Dan soal pembibitan, merupakan tugas pemerintah yang diamanatkan oleh undang-undang,” tuntut dia.

Tapi sampai hari ini, menurutpenilaian Rochadi, pemerintah hanya berkutat di sektor hilir sementara di sektor hulu sebagai pusat industri penghasil bakalan tidak disentuh. Lebih memprihatinkan, pemerintah seolah lepas tangan dan justru memberikan tanggung jawab breeding (pembibitan) kepada peternak rakyat dan industri feedlot. Semestinya ada segmentasi,breedingdan feedlot terpisah. Tetapi yang terjadi sekarang feedlot dipaksa ditarik ke hulu sehingga bermain di pembiakan. “Inikan lucu, jadi ada yang istilahnya breedlot yaitu breeding – feedlot. Walaupunbias jalan karenakeuntungannyasaling menutupi, tetapi itu tugas pemerintah. Undang-undang menyatakan, pembibitan adalah tanggung jawab pemerintah. Nah tanggung jawab pemerintah ini seharusnya dilakukan BUMN, badan ini harus bekerja,” cecar dia.

Menggiatkankembali integrasi sapi sawit melalui PT Perkebunan Nusantara (PTPN), disebut Rochadi sebagai solusi, sebagaimana pernah digagasDahlan Iskan saat menjabat sebagai Menteri BUMN. Realisasi kebijakan tersebut dinilainya masih jauh dari harapan.

Ia berandai-andai program integrasi sapi-sawitdijalankan, dan pemerintah mampu menyediakan setidaknya 3 juta ekor bibit sapi untuk di gemukkan. “Pemerintah mampu sediakan 1 juta ekor bibit sapi saja melalui pembibitan pemerintah, harga sudah pasti terkendali,” ucapnya yakin. Karut marutpersapian saat ini, menurut Rochadi, karena sektor pembibitan dibebankan kepada rakyat. Dan selama initak ada insentif apapun kepada rakyat yang mengembangkan pembibitan, karenaitu harga sulit terkendali.

Grand Desain

Dosen Fakultas Peternakan IPB, Muladno dalam Seminar Grand Design Perdagingan Nasional yang dibesut oleh Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) pada 29/7 lalu menilai, selama ini peternak rakyat ditelantarkan oleh banyak pihak tanpa disadari. Baik itu oleh aparat, perguruan tinggi maupun pengusaha, sehingga persaingan yang terjadi tidak sehat.

Fakta memprihantinkan disebutnya, sarjana peternakan sangat minim yang berprofesi sebagai peternak, kurang dari 5%. Sementara peternak jamaknya tidak punya bekal ilmucukup, termasuk dari institusi setingkat kampus. “Sehingga tidak pernah nyambung. Akibatnya populasi terus turun. Saya katakan, kalau ada yang mengatakan populasi sapi naik itu bohong besar. Populasi ternak lokal semuanya turun, cek saja di mana-mana,” ungkapnyaterang-terangan.Maka membuatgrand design, kata Muladno,yang harus dikedepankan adalah peningkatan populasi ternak sapi. 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 204/September 2016

Sumber : (http://www.trobos.com/detail-berita/2016/09/01/7/7870/masih-soal-bibit-sapi)

Berdasarkan pengamatan Dinas Peternakan permasalahan yang dihadapi peternak ayam keliling di Kabupaten Barru yaitu masih banyaknya pedagang yang belum mengetahui cara membedakan hewan sehat dan sakit, belum mengetahui biosecurity, belum mengetahui biosafety, dan belum mengetahui standar pemotongan unggas yang ASUH dan Higienis.

Pada tanggal 11 Mei 2016 telah dilaksanakan Pertemuan Perdagangan Ternak Antar Daerah yang diikuti oleh peternak ayam keliling yang ada di Kabupaten Barru yang bertujuan  agar pedagang ayam kelliling dapat memberikan informasi tentang pembelian dan pejualan ayam, peternak ayam juga mengetahui ternak yang diperdagangkan dalam kondisi yang sehat dan layak di konsumsi serta diharapkan peternak ayam mengetahui proses mendapatkan SKKH (Surat Keterangan Kesehatan Hewan).

Bersama Otoritas Jasa Kesehatan Dan Kementerian Pertanian mendorong untuk terwujudnya program Asuransi ternak sapi potong. Kementerian Pertanian mengungkapkan, Asuransi ternak ini di pastikan tanpa ada dukungan konsprsium perusahaan Asuransi.

Kementerian Pertanian telah menunjuk BUMN dan PT Asuransi Jasa Indonesia sebagai pelaksana program ternak sapi ini selama tahun 2016. Nantinya asuransi ini sepenuhnya dikendalikan oleh BUMN namun masih dalam pengawasan Kementerian Pertanian. Kementerian Pertanian menunjuk asuransi milik pemerintah karena sesuai dengan undang undang yang tersedia.

sepanjang 2016 program asuransi ternak sapi akan ditujukan untuk perlindungan 120.000 ekor ternak sapi. Implementasi produk ini bakal mendapatkan dukungan pemerintah melalui subsidi premi sebesar 80%. Nilai premi untuk asuransi ternak sapi sekitar Rp 200.000 perasapi dengan begitu peternak nantinya hanya akan membayarkan premi senilai Rp40.000 untuk setiap ternaknya.

(sumber : http://agribisnis.co.id)

Sabtu, 07 Mei 2016 10:30

Pewilayahan Sumber Bibit

Bibit ternak merupakan salah satu sarana produksi strategis untuk meningkatkan produktivitas ternak. Ketersediaan bibit ternak yang berkualitas dan berkelanjutan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan bibit ternak nasional. Untuk itu, agar pembibitan ternak lebih terfokus diperlukan penetapan wilayah sumber bibit yang memenuhi kriteria jenis dan rumpun ternak, agroklimat, kepadatan penduduk, sosial ekonomi, budaya, serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain kriteria di atas, hal yang tidak kalah diperhatikan adalah masalah kesehatan hewan. Wilayah yang diusulkan untuk ditetapkan haruslah dilakukan surveilan Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) secara berkala.

 

Landasan yang digunakan dalam penetapan wilayah sumber bibit ternak adalah Peraturan Menteri Pertanian Nomor 48/Permentan/OT.140/9/2011 tentang Pewilayahan Sumber Bibit tanggal 6 September 2011 juncto Peraturan Menteri Pertanian Nomor 64/Permentan/OT.140/11/2012 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pertanian Nomor 48/Permentan/OT.140/9/2011.

 

Tujuan dengan adanya pewilayahan sumber bibita antara lain membentuk wilayah/daerah pemurnian ternak asli/lokal Indonesia, sehingga ternak asli/lokal Indonesia dapat lestari, mewujudkan dan menjamin ketersediaan bibit ternak baik secara jumlah maupun mutu.

 

Sampai saat ini Menteri Pertanian sudah menetapkan dua wilayah sumber bibit, yaitu Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan sebagai Wilayah Sumber Bibit Itik Alabio dan Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan sebagai Wilayah Sumber Bibit Sapi Bali. Dan saat ini sudah ada 18 wilayah yang mengusulkan untuk ditetapkan sebagai wilayah sumber bibit, diantaranya Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah untuk Sapi PO dan Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat untuk Sapi Bali.

Sejak Minggu (14/2), program bantuan bergulir Yayasan Prananda Surya Paloh (PSP Foundation) khusus untuk peternakan sapi dan domba dimulai. Caranya, kelompok peternak diberi bantuan hewan dan tahun selanjutnya, bantuan diberikan pada kelompok lain di wilayah serupa. Selain untuk menguatkan pertahanan pangan khususnya daging, kotoran ternak pun diupayakan diolah untuk bahan bakar mineral (BBM) seperti gas.

 

Pendiri PSP Foundation Prananda Surya Paloh melalui akun pribadinya menjelaskan, langkah pertama adalah memberi bantuan ternak pada 2 kelompok petani di Deliserdang. “Mereka yang beroleh bantuan telah melalui verifikasi dan survei menyeluruh yang dipimpin Ketua PSP Foundation Gandi Febraska Manurung.


Selain bantuan ternak juga transfer ilmu kesehatan hewan. Atas usul sejumlah simpatisan, diupayakan kotorannya menjadi BBM,” tulis anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem itu.

 

Kelompok yang beroleh bantuan harus melaporkan progres program minimal tiga bulan sekali bersamaan dengan agenda reses anggota legislatif asal Dapil Sumut 1 tersebut. “PSP Foundation berharap kegiatan memberi kontribusi pada penguatan Sumatera Utara sebagai stok pangan. Atau setidaknya membantu — meskipun tidak seberapa — pada usaha pemerintah untuk ekonomi kerakyatan,” tulisnya sambil mengucapkan Happy Valentine’s Day. “Penentuan penerima bantuan usai kunjungan reses tiga hari di DS, Serdangbedagei hingga Tebingtinggi.”

 

Gandi Manurung menambahkan, peternakan tersebut dipilih di wilayah yang memiliki lingkungan asri dengan rerumputan sebagai pakan ternak. “Tentang kajian kotorannya menjadi BBM, pasti PSP Foundation mempertimbangkan untuk dikembangkan dalam program lanjutan PSP Foundation,” tutupnya. (Sumber: hariansib.co)

Saat ini, budidaya burung puyuh di daerah Lebak, Banten, khususnya cukup berkembang sehingga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi juga penyerapan lapangan pekerjaan, karena permintaan pasar relatif tinggi.

 

Berdasarkan data populasi ternak burung puyuh di Kabupaten Lebak tahun 2015 tercatat 2.036 ekor dan diharapkan terus meningkat.

 

Pemerintah daerah pun mendorong agar peternak puyuh tumbuh dan berkembang guna mengatasi kemiskinan dan pengangguran.

 

Pihaknya juga meminta masyarakat agar gemar memakan telur puyuh karena kandungan nutrisi lebih baik dibandingkan telur ternak unggas lainnya, termasuk ayam.

 

Prospek usaha burung puyuh cukup menjanjikan karena permintaan pasar lokal belum terpenuhi, sehingga terus dioptimalkan bantuan kepada para peternak rakyat itu.

 

Saat ini, pengembangan usaha burung puyuh petelur mulai berkembang di Kecamatan Sajira melalui program sarjana membangun desa (PSMD) pada tahun 2011 yang diluncurkan Kementerian Pertanian.

 

Program tersebut sangat positif karena bisa memberikan peningkatan ekonomi juga penyerapan lapangan pekerjaan.

 

Burung puyuh dengan jenis puyuh jepang didatangkan dari Sukabumi, Jawa Barat. Jenis burung puyuh ini bisa memproduksi telur setiap hari selama dua tahun.

 

Kelompok ternak pertama mengembangkan burung puyuh sebanyak 1.000 ekor dengan produksi sebanyak 700 telur.

 

Harga telur puyuh saat ini berkisar antara Rp250 per telur dan Rp300/telur.

 

“Dengan berkembangnya kelompok ternak tentu dapat meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga,” katanya.

 

Pahmi Aulia, seorang peternak burung puyuh warga Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak mengatakan dirinya mendukung program pengembangan usaha yang digulirkan pemerintah daerah guna mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat perdesaan.

 

Saat ini, peternak puyuh di Kecamatan Sajira cukup membutuhkan bantuan pengembangan burung untuk meningkatkan produksi.

 

Kemungkinan besar pengembangan bantuan burung puyuh dapat menjadikan andalan ekonomi masyarakat setempat.

 

Produksi telur puyuh yang dikembangkan kelompok ternak Kecamatan Sajira sudah bisa memasok ke Pasar Rangkasbitung dan Pandeglang.

 

“Kami menargetkan produksi telur puyuh ke depan bisa memenuhi permintaan pasar Banten,” katanya.

 

Sementara itu, Ketua Koperasi Bangun Sajira Mandiri Perdi Saefulah mengatakan bahwa pihaknya terus memberikan pembinaan maupun permodalan bagi kelompok-kelompok ternak untuk mengembangkan usaha budi daya puyuh petelur.

 

Hal itu mengingat, kata dia, usaha telur puyuh sangat prospektif dan menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

 

“Sekarang, banyak kelompok-kelompok ternak telur puyuh sukses secara ekonomi karena setiap hari bisa menghasilkan uang,” katanya. (Sumber: ciputraentrepreneurship.com)

DUNIATERNAK.COM, – Perum Bulog telah menyalurkan 10.500 ton jagung kepada para peternak individu dan pabrik pakan ternak (feedmill) skala menengah-kecil di sejumlah wilayah di Indonesia melalui kegiatan operasi pasar (OP). OP ditujukan untuk menstabilkan harga jagung di Tanah Air yang sempat mengalami lonjakan cukup tinggi dalam dua bulan terakhir.

 

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Wahyu Suparyono mengatakan, selama OP berlangsung, jagung yang telah disalurkan mencapai 10.500 ton yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia. “Penyaluran melalui OP itu untuk menstabilkan harga jagung yang sempat mengalami lonjakan cukup tinggi,” kata dia di Surabaya, Rabu (24/2).

 

Menurut dia, jagung itu dibeli Bulog dari Brasil untuk memenuhi kebutuhan bagi industri pakan ternak. Jagung yang digunakan untuk OP memiliki kualitas standar karena peruntukannya sebagai pakan ternak. “Kalau jagung dibeli murah, industri feedmill bisa menjual pakan ternak lebih murah. Dampaknya, harga daging ayam dan telur ayam yang melonjak juga bisa kembali stabil,” katanya.

 

Rencananya, kata dia, OP jagung akan digelar sampai Maret mendatang hingga ada stabilisasi harga di pasar. Sementara harga jagung di pasar umum saat ini di kisaran Rp 5.500-6.000 per kilogram (kg). “Dalam OP ini, Bulog menjual jagung seharga Rp 3.600 per kg,” ungkapnya.

 

Secara nasional, sampai Maret mendatang disiapkan jagung sebanyak 60 ribu ton. Namun, untuk realisasi awal hanya 1.200 ton di empat provinsi di Indonesia, yakni Divre DKI Jakarta di Cigading Banten, Jawa Barat di Cirebon, Semarang Jawa Tengah, dan Jatim.

 

Menurut dia, untuk pengadaan jagung lokal di tingkat petani masih belum ada regulasi yang mengatur. Untuk pengadaan jagung domestik, Perum Bulog masih menunggu peraturan presiden (Perpres). “Belum ada Perpresnya. Pembelian dari impor untuk stabilisasi harga saja,” tandasnya.

 

Sementara itu, Perum Bulog Divisi Regional Jawa Timur (Divre Jatim) telah menyalurkan jagung sebanyak 7.300 ton pada industri pakan ternak (feedmill) skala menengah-kecil dan para peternak individu. Penyaluran itu dilakukan melalui operasi pasar (OP) yang digelar sejak awal bulan ini.

 

Kepala Perum Bulog Divre Jatim Perum Bulog Witono mengatakan, OP yang digelar di Jatim mampu menjaga ketersediaan stok dan stabilitas harga jagung di pasar. Selain menyalurkan jagung pada industri feedmill, Bulog juga melakukan pembelian melalui pengalihan jagung impor swasta sebanyak 115.986 ton serta mendapatkan kuota impor dari Bulog Pusat sebanyak 20 ribu ton untuk tahap pertama. “Total impor yang dilakukan Bulog Jatim rencananya 60 ribu ton,” ujar dia.(Sumber: beritasatu.com)

Halaman 1 dari 2
Downloadhttp://bigtheme.net/joomla Joomla Templates